Mengirim barang berukuran besar sering bikin seller berpikir dua kali. Bukan cuma karena berat aktualnya, tetapi juga karena ukuran paket bisa ikut menentukan biaya pengiriman. Apalagi jika barang yang dikirim berukuran besar tetapi bobotnya relatif ringan. Salah strategi packing dan pemilihan layanan bisa membuat biaya kirim membengkak tanpa disadari.
Padahal, mengirim Big Package tidak selalu berarti harus membayar ongkir yang “big” juga. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan seller dan pelaku UMKM untuk membuat pengiriman barang besar lebih efisien, mulai dari mengoptimalkan kemasan hingga membandingkan metode pengiriman yang sesuai.
Kenali Berat Aktual dan Berat Volume
Kesalahan yang cukup umum adalah hanya melihat berat barang ketika memperkirakan ongkir. Dalam praktik logistik, ukuran paket juga dapat memengaruhi berat yang digunakan untuk perhitungan biaya, yang dikenal sebagai dimensional weight atau volumetric weight.
FedEx menjelaskan bahwa dimensional weight memperhitungkan ruang yang ditempati sebuah paket. Jika berat volumetrik lebih tinggi daripada berat aktual, berat volumetrik tersebut dapat menjadi dasar penagihan.
DHL juga menerapkan prinsip serupa. Berat volumetrik dapat dihitung dengan rumus panjang × lebar × tinggi dibagi faktor volumetrik yang berlaku. Berat aktual dan berat volumetrik kemudian dibandingkan untuk menentukan berat yang digunakan dalam perhitungan biaya.
Karena itu, sebelum mengirim barang besar, jangan hanya menimbang barangnya. Ukur juga paket setelah selesai dikemas.
Jangan Gunakan Kemasan yang Terlalu Besar
Kemasan memang harus memberikan perlindungan yang cukup, tetapi bukan berarti semakin besar semakin baik.
Big package dengan banyak ruang kosong membutuhkan material tambahan untuk mengisi bagian tersebut. Selain meningkatkan penggunaan bahan kemasan, volume paket yang terlalu besar juga berpotensi meningkatkan berat volumetriknya.
FedEx bahkan menjelaskan bahwa kemasan berukuran berlebihan dapat membuat pelanggan pada dasarnya “membayar untuk udara” karena ruang yang ditempati paket ikut diperhitungkan dalam dimensional-weight pricing.
Solusinya adalah memilih kemasan yang proporsional dengan ukuran barang. Tetap sisakan ruang yang cukup untuk material pelindung, tetapi hindari ruang kosong yang tidak diperlukan.
Packing Harus Aman, Bukan Sekadar Hemat
Mengurangi ukuran kemasan bukan berarti mengorbankan keamanan barang. Justru untuk barang berat, packing yang kuat menjadi semakin penting.
DHL merekomendasikan penggunaan kotak berkualitas, termasuk double-wall box untuk kebutuhan tertentu, serta mengisi ruang kosong agar barang tidak bergerak selama proses pengiriman. DHL juga merekomendasikan metode H-taping untuk memperkuat sambungan kemasan.
UPS juga menyarankan penggunaan kemasan yang kokoh dan material cushioning yang sesuai untuk barang berat. Untuk paket berat, UPS menekankan pentingnya heavy-duty atau reinforced tape serta memastikan dimensi dan berat paket diketahui sebelum membuat pengiriman.
Artinya, targetnya bukan “kemasan paling kecil”, melainkan kemasan paling efisien yang tetap mampu melindungi barang big package.
Bandingkan Layanan Sebelum Checkout
Big package belum tentu harus dikirim menggunakan layanan yang sama seperti paket reguler berukuran kecil.
Beberapa carrier memiliki batas berat, ukuran, serta kategori layanan yang berbeda. DHL, misalnya, menjelaskan bahwa pengiriman berukuran sangat besar atau berbentuk tidak biasa dapat membutuhkan penanganan khusus. Untuk pengiriman yang sangat berat, opsi freight juga dapat menjadi pertimbangan.
UPS juga membedakan paket berat dengan pengiriman freight berdasarkan batas tertentu pada layanannya.
Karena itu, seller sebaiknya membandingkan beberapa opsi berdasarkan tiga hal: berat, dimensi, dan jenis layanan. Jangan otomatis memilih layanan hanya karena tarif per kilogramnya terlihat murah.
Pertimbangkan Memecah Pengiriman
Untuk beberapa jenis produk, membagi satu kiriman besar menjadi beberapa paket dapat menjadi alternatif. Namun, strategi ini tidak selalu lebih murah karena total biaya tetap bergantung pada berat, dimensi, jumlah paket, serta aturan masing-masing layanan.
Karena itu, lakukan simulasi terlebih dahulu.
Misalnya, sebuah produk memiliki ukuran besar dan berat cukup tinggi. Seller dapat membandingkan biaya satu paket besarbig package dengan dua atau beberapa paket yang lebih kecil. Jika pengiriman dipecah, pastikan biaya tambahan akibat jumlah paket tidak justru menghapus penghematannya.
Ukur Paket Setelah Packing
Ini kelihatannya sederhana, tetapi sering menjadi bagian yang terlewat.
Jangan menggunakan ukuran produk sebagai acuan akhir. Ukur panjang, lebar, dan tinggi paket setelah seluruh proses packing selesai. Timbang juga paket dalam kondisi siap dikirim.
FedEx dan UPS sama-sama menjelaskan pentingnya menggunakan ukuran dan berat paket untuk menentukan dimensional atau billable weight.
Dengan data tersebut, seller dapat melakukan estimasi biaya dengan lebih realistis dan mengurangi risiko perbedaan antara perkiraan ongkir big package dengan biaya aktual.

Big Package Bukan Berarti Big Loss
Barang besar memang membutuhkan perhatian lebih dalam proses pengiriman. Namun, ongkir yang mahal bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Kuncinya ada pada efisiensi volume, packing yang tepat, pengukuran akurat, dan pemilihan layanan yang sesuai. Seller juga perlu memahami bahwa setiap ekspedisi memiliki ketentuan berat, dimensi, surcharge, dan perhitungan volumetrik masing-masing.
Jadi, sebelum mengirim barang besar, jangan cuma bertanya, “Beratnya berapa kilogram?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Berapa ukuran akhirnya, bagaimana cara packing-nya, dan layanan mana yang paling efisien?”
Dengan pendekatan tersebut, Big Package tidak harus berubah menjadi Big Loss. Barang tetap aman sampai tujuan, sementara biaya pengiriman bisa lebih terkontrol.
Baca Juga : BIAYA PENGIRIMAN TERANCAM NAIK





