Cara Menentukan Sistem Stok dalam 30 Hari, Mana yang Lebih Tepat? Boost Bisnis

Bagikan ke

sistem stok

Menentukan sistem stok bukan sekadar memilih apakah barang harus tersedia di gudang atau baru dibeli setelah ada pesanan. Keputusan ini berkaitan dengan modal kerja, kecepatan pengiriman, kapasitas penyimpanan, hingga pengalaman pelanggan. Karena itu, pelaku usaha membutuhkan pendekatan yang terukur agar persediaan tidak terlalu banyak, tetapi juga tidak sering kosong.

Bagi bisnis yang sedang berkembang, sistem stok bisnis sebaiknya ditentukan berdasarkan data penjualan, bukan sekadar intuisi. Evaluasi 30 hari dapat membaca pola. Periode ini dapat menjadi starting point untuk membaca pola permintaan dan menentukan apakah model Pre-Order, Ready Stock, atau kombinasi keduanya lebih sesuai.

Memahami Sistem Stok Bisnis

Sistem stok bisnis merupakan cara perusahaan mengatur ketersediaan barang mulai dari pengadaan, penyimpanan, penjualan, sampai pengisian ulang. Pengelolaan inventory yang baik perlu menyeimbangkan kebutuhan pelanggan dengan biaya yang muncul karena barang terlalu lama tersimpan. Oracle menjelaskan bahwa inventory mengikat kas dan menimbulkan carrying cost, sehingga bisnis perlu menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan.

Dalam praktiknya, sistem stok bisnis dapat menggunakan beberapa pendekatan. Dua model yang paling umum adalah Pre-Order dan Ready Stock. Pre-Order berarti barang diproses setelah pesanan diterima, sedangkan Ready Stock berarti produk sudah tersedia sebelum pelanggan melakukan pembelian.

Pre-Order: Fleksibel untuk Demand yang Belum Stabil

Pre-Order dapat menjadi pilihan ketika permintaan belum konsisten, produk bersifat custom, atau variasi barang terlalu banyak untuk disimpan sekaligus. Model ini membantu bisnis mengurangi kebutuhan menyimpan stok dalam jumlah besar.

Namun, ada konsekuensinya. Customer harus menunggu lebih lama, sehingga estimasi produksi dan pengiriman perlu dijelaskan sejak awal. Jika supplier atau proses produksi sering terlambat, pengalaman pelanggan juga dapat terganggu.

Ready Stock: Menang di Kecepatan

Ready Stock menawarkan keunggulan utama berupa fulfillment yang lebih cepat. Model ini cocok untuk produk fast-moving dengan permintaan relatif stabil. Ketika barang sudah tersedia, bisnis dapat langsung memproses pesanan tanpa menunggu produksi atau pengadaan berikutnya.

Masalahnya, stok yang terlalu banyak dapat membuat modal tertahan. Barang yang bergerak lambat juga berpotensi menjadi dead stock. Karena itu, sistem stok bisnis berbasis Ready Stock membutuhkan pemantauan penjualan dan inventory turnover secara rutin.

30 Hari untuk Membaca Pola Penjualan

Hari 1–7 dapat digunakan untuk mengumpulkan data dasar: jumlah order, unit terjual, produk paling laku, produk paling lambat, nilai transaksi, waktu supplier memenuhi pesanan. Jangan hanya mencatat total penjualan. Pisahkan data berdasarkan SKU agar pola tiap produk terlihat.

Hari 8–15 fokus pada identifikasi demand. Tandai produk fast-moving, slow-moving, produk musiman, dan produk dengan repeat order tinggi. Data tersebut membantu bisnis melihat produk mana yang layak disimpan sebagai Ready Stock dan mana yang lebih aman diproses melalui Pre-Order.

Hari 16–23 digunakan untuk menghitung kebutuhan persediaan. Perhatikan rata-rata penjualan harian dan lead time supplier. Safety stock juga dapat dipertimbangkan sebagai buffer ketika terjadi kenaikan permintaan atau keterlambatan pasokan. Oracle menjelaskan bahwa reorder point dapat dihitung dengan mempertimbangkan kebutuhan selama lead time ditambah safety stock.

Hari 24–30 adalah tahap pengambilan keputusan. Buat daftar produk berdasarkan pergerakan dan risikonya. Produk dengan demand stabil dapat diarahkan ke Ready Stock, sedangkan produk dengan demand tidak pasti dapat menggunakan Pre-Order. Untuk bisnis dengan karakter produk yang beragam, strategi hybrid dapat menjadi alternatif.

Jangan Lupakan Cash Flow

Memilih sistem stok bisnis juga berarti menentukan seberapa besar uang yang akan tertahan dalam persediaan. Ready Stock membutuhkan modal lebih awal karena barang harus tersedia sebelum terjual. Sebaliknya, Pre-Order dapat mengurangi kebutuhan inventory awal, tetapi menuntut pengelolaan lead time yang disiplin.

Bank Indonesia juga menekankan pentingnya pengelolaan stok dan keuangan bagi bisnis online, termasuk menjaga arus kas agar operasional tetap berjalan. Artinya, keputusan stok perlu dilihat bersama kondisi keuangan, bukan hanya target penjualan.

Gunakan Data untuk Menentukan Strategi

Tidak ada satu sistem stok bisnis yang otomatis cocok untuk semua usaha. Produk fast-moving, misalnya, membutuhkan pendekatan berbeda dibanding barang custom atau seasonal. Karena itu, evaluasi 30 hari sebaiknya dilakukan secara berkala dan hasilnya dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Pantau beberapa indikator: stockout, dead stock, inventory turnover, waktu pemenuhan pesanan, margin, dan cash flow. Jika produk sering habis sebelum restock datang, level persediaan mungkin perlu dinaikkan. Sebaliknya, jika barang lama tidak bergerak, jumlah pembelian dapat dikurangi atau model penjualannya dievaluasi.

Buat pula aturan sederhana untuk setiap kategori produk. Misalnya, produk utama dengan penjualan tinggi memiliki target minimum stok, produk eksperimen memakai Pre-Order, sedangkan produk yang mulai melambat ditinjau ulang sebelum pembelian berikutnya. Pendekatan ini membuat sistem stok bisnis lebih adaptif terhadap perubahan pasar.

Selain itu, dokumentasikan hasil evaluasi 30 hari. Catatan tersebut dapat menjadi baseline untuk periode berikutnya, terutama ketika ada campaign, musim liburan, payday, atau peluncuran produk baru. Dengan begitu, keputusan pembelian tidak hanya berdasarkan kondisi hari ini, tetapi juga memiliki referensi historis yang bisa dibandingkan.

Langkah ini membuat sistem stok bisnis lebih adaptif. Ketika volume order meningkat, evaluasi 30 hari dapat diperpanjang menjadi bulanan atau kuartalan. Bisnis memiliki dasar untuk menentukan kapan menambah persediaan, mengganti supplier, mengatur fulfillment, atau mengubah komposisi produk sesuai perubahan demand.

Evaluasi rutin menjaga sistem stok bisnis tetap relevan. Review berkala membantu sistem stok bisnis berkembang.

Pada akhirnya, sistem stok bisnis yang efektif bukan tentang menyimpan barang sebanyak mungkin. Tujuannya adalah memiliki jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan dengan biaya dan risiko yang terkendali. Dengan evaluasi 30 hari, bisnis dapat membuat keputusan berdasarkan data, menguji Pre-Order atau Ready Stock secara terukur, lalu mengembangkan sistem inventory yang semakin efisien seiring pertumbuhan usaha.

Baca Juga : MENGHINDARI OVERLOAD GUDANG

Bagikan ke