Menentukan sistem stok penjualan yang tepat menjadi tantangan bagi pelaku bisnis online, terutama pada tahap awal. Banyak seller masih ragu memilih antara pre-order atau ready stock karena keduanya memiliki kelebihan dan risiko masing-masing.
Dengan pendekatan yang terstruktur, penentuan sistem yang paling sesuai sebenarnya dapat dilakukan dalam waktu 30 hari. Evaluasi yang tepat akan membantu menjaga cash flow tetap stabil sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan.
Minggu 1: Analisis Produk dan Target Pasar
Langkah awal dalam menentukan sistem stok adalah memahami karakter produk yang dijual. Produk custom, limited, atau berbasis tren umumnya lebih cocok menggunakan sistem pre-order karena tidak memerlukan stok besar di awal. Sebaliknya, produk kebutuhan rutin atau fast moving lebih efektif menggunakan ready stock. Selain itu, target pasar juga perlu diperhatikan. Jika pelanggan cenderung mengutamakan kecepatan pengiriman, maka sistem ready stock menjadi pilihan yang lebih relevan.
Minggu 2: Evaluasi Modal dan Cash Flow
Setelah memahami karakter produk, tahap berikutnya adalah mengevaluasi kondisi keuangan bisnis. Dalam penerapan sistem stok bisnis, faktor modal menjadi salah satu penentu utama. Sistem pre-order memungkinkan bisnis berjalan dengan modal lebih rendah karena produksi dilakukan setelah pesanan masuk. Sementara itu, sistem ready stock membutuhkan investasi di awal untuk menyediakan barang. Namun, sistem ini memungkinkan proses penjualan dan pengiriman berjalan lebih cepat.
Karena itu, pemilihan sistem stok sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan bisnis dalam menjaga cash flow agar tetap aman.
Minggu 3: Uji Coba Sistem Penjualan
Lakukan pengujian strategi secara langsung. Sebagian produk dapat dijalankan dengan sistem pre-order, sementara produk lainnya menggunakan ready stock. Hasil dari uji coba ini akan memberikan gambaran mengenai efektivitas masing-masing sistem stok dari sisi penjualan, operasional, serta respons pelanggan. Seller juga bisa melihat pola mana yang lebih cepat menghasilakn repeat order.
Tahap ini penting karena keputusan terkait sistem stok bisnis tidak selalu dapat ditentukan hanya berdasarkan teori, tetapi perlu dibuktikan melalui praktik langsung di lapangan.
Minggu 4: Evaluasi dan Optimasi Sistem Stok
Setelah uji coba dilakukan, evaluasi hasil dari sistem stok yang digunakan.
Beberapa hal yang bisa diperhatikan:
- Kecepatan produk terjual
- Kepuasan pelanggan
- Jumlah komplain atau pembatalan
- Perputaran stok
Dari sini, seller bisa menentukan apakah cukup menggunakan satu sistem stok atau justru menggabungkan keduanya. Jika menggunakan strategi hybrid, produk dengan permintaan tinggi disediakan dalam ready stock, sedangkan produk baru atau jenis produk tertentu menggunakan sistem pre-order.
Baca juga: Pre-Order vs Ready Stock
Strategi Tambahan Optimalkan Sistem Stok
Agar sistem stok bisnis berjalan lebih optimal, beberapa langkah ini bisa diterapkan:
- Gunakan data penjualan untuk melihat pola permintaan
- Hindari stok berlebihan dengan pembelian bertahap
- Sampaikan estimasi pengiriman dengan jelas
- Gunakan pencatatan stok yang rapi dan konsisten
Kesimpulan

Penentuan strategi antara pre-order atau ready stock tidak perlu dilakukan secara terburu-buru. Dengan pendekatan bertahap selama 30 hari, bisnis dapat memahami pola penjualan dan menentukan strategi kelola stok yang paling sesuai. Baik pre-order maupun ready stock memiliki keunggulan masing-masing. Pemilihan sistem stok sebaiknya disesuaikan dengan kondisi bisnis, karakter produk, serta kebutuhan pasar.
Untu mendukung kelancaran sistem pre-order maupun ready stock, kamu bisa manfaatkan AutoKirim agar proses pengiriman jadi lebih praktis dan efisien. Mulai dari pembuatan resi hingga tracking bisa dilakukan secara otomatis tanpa input manual, sehingga operasional lebih rapi dan hemat waktu.





