Peak season selalu jadi momen yang paling ditunggu oleh banyak seller online. Salah satu contohnya ketika mendekati Lebaran, aktivitas belanja biasanya meningkat secara drastis. Mulai dari kebutuhan fashion, hampers, makanan, hingga perlengkapan mudik, semuanya mengalami lonjakan permintaan.
Tapi di balik lonjakan order itu, ada satu hal yang sering tidak disadari: profit belum tentu ikut naik.
Banyak seller justru mengalami masalah seperti biaya operasional yang membengkak, kesalahan pengiriman, sampai komplain pelanggan. Akibatnya, peak season yang harusnya jadi momen panen malah berubah jadi periode penuh tekanan.
Supaya hal tersebut tidak terjadi, penting bagi seller untuk memahami beberapa kesalahan yang sering muncul saat peak season dan bagaimana cara menghindarinya.
1. Terlalu Fokus Mengejar Order
Saat mendekati Lebaran, banyak seller berlomba-lomba membuat promo besar. Diskon, cashback, gratis ongkir, hingga iklan marketplace sering dipasang sekaligus untuk menarik pembeli sebanyak mungkin.
Masalahnya, tidak semua seller menghitung kembali margin keuntungan setelah semua potongan tersebut diterapkan.
Jika tidak diperhitungkan dengan baik, biaya seperti diskon, potongan marketplace, biaya iklan, dan biaya operasional bisa membuat keuntungan menjadi sangat tipis. Bahkan dalam beberapa kasus, seller bisa saja mendapatkan banyak order tetapi profitnya tidak terlalu signifikan.
Cara Menghindari:
Tetap menghitung margin sebelum membuat promo. Pastikan harga setelah diskon masih memberikan keuntungan yang sehat bagi bisnis.
2. Stok Tidak Dipersiapkan dengan Baik
Kesalahan lain yang sering terjadi saat peak season adalah stok yang tidak siap menghadapi lonjakan permintaan.
Ketika produk tiba-tiba viral atau banyak dicari menjelang Lebaran, stok bisa habis lebih cepat dari perkiraan. Hal ini dapat menyebabkan beberapa masalah, seperti:
- pesanan tertunda
- pembatalan order oleh pelanggan
- penurunan rating toko
Cara Menghindari:
Agar hal ini tidak terjadi, seller sebaiknya menggunakan data penjualan sebelumnya sebagai acuan. Produk yang termasuk kategori fast moving biasanya membutuhkan stok tambahan sekitar 20–40% dari rata-rata penjualan normal.
Dengan persiapan stok yang lebih matang, seller bisa menghindari kehilangan peluang penjualan saat permintaan sedang tinggi.
3. Sistem Operasional Masih Manual
Saat jumlah order masih sedikit, proses manual mungkin tidak terlalu terasa berat. Misalnya seperti input resi satu per satu, mengecek ongkir secara terpisah, atau mengatur pengiriman secara manual.
Namun saat peak season Lebaran datang, jumlah pesanan bisa meningkat berkali-kali lipat. Jika operasional masih dilakukan secara manual, tim bisa cepat kewalahan.
Akibatnya, proses pengiriman menjadi lebih lambat dan risiko kesalahan seperti salah alamat atau salah input resi juga meningkat.
Cara Menghindari:
Mulai gunakan sistem yang bisa membantu mengotomatisasi proses operasional, sehingga pekerjaan bisa lebih cepat dan rapi meskipun order sedang ramai.
Salah satu solusi yang mulai banyak digunakan seller adalah sistem pengiriman terintergrasi seperti AutoKirim, yang memungkinkan proses cetak resi, cek ongkir, dan pengaturan ekspedisi dilakukan dalam satu dashboard.
4. Customer Service Tidak Siap Menghadapi Lonjakan Chat
Lonjakan order biasanya diikuti dengan lonjakan chat dari customer. Pembeli sering bertanya tentang stok, ukuran, detail produk, promo, hingga estimasi pengiriman sebelum Lebaran.
Jika seller tidak memiliki sistem respon yang baik, chat bisa menumpuk dan membuat pelanggan menunggu terlalu lama.
Padahal, respon yang cepat sering menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan pembelian.
Cara Menghindari:
Seller bisa menyiapkan template balasan cepat atau sistem auto reply untuk pertanyaan yang sering muncul. Dengan begitu, pelanggan tetap mendapatkan respon dengan cepat meskipun jumlah chat meningkat.
5. Tidak Mengantisipasi Lonjakan Pengiriman
Menjelang Lebaran, bukan hanya seller yang sibuk. Perusahaan ekspedisi juga mengalami peningkatan volume pengiriman yang sangat tinggi.
Jika seller hanya mengandalkan satu ekspedisi, risiko keterlambatan pengiriman bisa menjadi lebih besar, terutama saat mendekati hari raya.
Karena itu, banyak bisnis mulai menggunakan beberapa ekspedisi sekaligus sebagai alternatif pengiriman. Dengan cara ini, seller memiliki pilihan jika salah satu layanan pengiriman sedang mengalami overload.
Selain itu, memberikan estimasi pengiriman yang realistis kepada pelanggan juga penting agar ekspektasi mereka tetap terjaga.
Baca Juga: Dashboard Pengiriman Otomatis: Solusi Seller dengan Order 1000+ per Hari
Kesimpulan
Peak Season Lebaran memang manjadi salah satu momen terbaik untuk meningkatkan penjualan. Namun tanpa strategi yang tepat, lonjakan order justru bisa menimbulkan berbagai masalah operasional.
Mulai dari margin yang terlalu tipis, stok yang tidak siap, operasional yang kewalahan, hingga pengiriman yang terlambat bisa berdampak pada kepuasan pelanggan kesehatan bisnis secara keseluruhan.
Dengan persiapan yang matang — mulai dari perencanaan stok, pengelolaan operasional hingga strategi pengiriman, seller bisa memaksimalkan peluang penjualan saat Lebaran tanpa harus menghadapi kekacauan di balik layar.




