Belanja online memang praktis, tetapi kemudahan tersebut juga dimanfaatkan oleh oknum untuk menjalankan berbagai modus penipuan. Salah satunya adalah modus penipuan ongkir yang membuat korban harus mengeluarkan uang berkali-kali dengan alasan biaya pengiriman, asuransi, pembayaran tambahan, hingga refund.
Sekilas, permintaan tersebut bisa terlihat masuk akal. Apalagi pelaku biasanya membawa nama ekspedisi, marketplace, atau pihak yang mengaku bertanggung jawab atas proses pengiriman. Masalahnya, ketika korban sudah melakukan transfer, muncul permintaan pembayaran baru. Inilah bagian yang perlu diwaspadai.
Seperti Apa Modusnya?
Pada modus penipuan ongkir, pelaku biasanya menghubungi calon korban dengan informasi bahwa terdapat paket yang sedang dikirim atau akan diterima. Korban kemudian diminta membayar biaya ongkir tertentu melalui transfer.
Setelah pembayaran dilakukan, masalah baru dimunculkan. Pelaku mengatakan paket membutuhkan biaya asuransi agar dapat diproses. Korban yang merasa proses pengiriman memang membutuhkan perlindungan tambahan akhirnya kembali melakukan pembayaran.
Tidak berhenti sampai di sana. Pelaku kemudian memberi tahu bahwa paket mengalami kegagalan proses. Penerima diminta membayar sejumlah uang terlebih dahulu agar paket dapat diproses kembali.
Ketika korban sudah membayar, proses kembali dinyatakan gagal. Pada tahap berikutnya, pelaku menawarkan pembatalan transaksi dan menjanjikan pengembalian dana atau refund. Namun, korban justru diminta melakukan transfer tambahan dengan alasan biaya administrasi, validasi, atau proses refund.
Pola berulang seperti ini merupakan red flag yang tidak boleh dianggap sepele. Dalam modus penipuan ongkir, alasan pembayaran dapat terus berganti meskipun tujuan akhirnya sama: membuat korban mentransfer uang.
Kenapa Modus Ini Bisa Menjebak?
Salah satu kekuatan modus penipuan ongkir adalah penggunaan situasi yang terlihat normal. Biaya ongkir, asuransi, atau refund memang dikenal dalam transaksi dan pengiriman barang. Karena itu, korban mungkin tidak langsung merasa sedang berhadapan dengan penipuan.
Pelaku juga dapat menggunakan bahasa yang meyakinkan dan menciptakan rasa mendesak. Misalnya, korban diberi tahu bahwa paket akan dikembalikan apabila pembayaran tidak segera dilakukan.
Tekanan seperti ini membuat korban cenderung mengambil keputusan cepat tanpa melakukan verifikasi. Padahal, semakin mendesak seseorang diminta melakukan transfer, semakin penting untuk berhenti sejenak dan memeriksa informasinya.
OJK sendiri mengingatkan bahwa modus penipuan terus berkembang dan semakin beragam. Dalam booklet edukasi yang diterbitkan pada Agustus 2026, OJK mengimbau masyarakat mengenali berbagai modus scam, melindungi diri, serta segera melapor apabila menjadi korban.
Ciri-Ciri yang Perlu Diwaspadai
Ada beberapa tanda yang dapat membantu mengenali modus penipuan ongkir. Pertama, seseorang meminta transfer ke rekening pribadi dengan alasan pembayaran pengiriman.
Kedua, biaya yang harus dibayarkan terus berubah atau bertambah setelah pembayaran sebelumnya dilakukan. Ketiga, informasi tentang paket tidak dapat diverifikasi melalui kanal resmi ekspedisi.
Keempat, pelaku meminta korban mengikuti instruksi melalui nomor pribadi atau akun yang tidak dapat dipastikan identitasnya. Kelima, korban dijanjikan refund tetapi justru diminta mengirimkan uang lagi.
Jangan mudah percaya hanya karena pelaku memiliki nama, logo, atau informasi yang terlihat profesional. Identitas dan informasi transaksi tetap perlu diverifikasi melalui kanal resmi.
Jangan Langsung Transfer
Jika menemukan modus penipuan ongkir, langkah paling aman adalah jangan langsung melakukan pembayaran. Hentikan komunikasi sementara dan lakukan pengecekan secara mandiri.
Cek nomor resi melalui situs atau aplikasi resmi ekspedisi. Jika ada informasi mengenai biaya tambahan, hubungi customer service resmi menggunakan kontak yang tersedia di kanal resmi, bukan nomor yang diberikan oleh orang yang menghubungi Anda.
Hindari juga mengklik tautan mencurigakan atau memberikan data pribadi dan informasi perbankan. OJK sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap komunikasi yang mengatasnamakan lembaga resmi dan memastikan kebenaran informasi melalui kanal resmi.

Sudah Terlanjur Transfer? Jangan Panik
Jika sudah terjebak modus penipuan ongkir dan melakukan transfer, segera kumpulkan seluruh bukti. Simpan screenshot percakapan, bukti transfer, nomor rekening tujuan, nomor telepon, tautan, serta informasi transaksi lainnya.
Jangan menghapus percakapan karena bukti tersebut dapat membantu proses pelaporan. OJK melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menyarankan korban segera melaporkan penipuan melalui portal IASC untuk upaya penanganan finansial, sekaligus membuat laporan kepada penegak hukum.
IASC juga mencatat besarnya jumlah laporan penipuan transaksi keuangan di Indonesia. Hingga 31 Maret 2026, Satgas PASTI menyebut IASC telah menerima lebih dari 515 ribu laporan masyarakat dan melakukan pemblokiran terhadap ratusan ribu rekening yang dilaporkan.
Intinya, modus penipuan ongkir tidak selalu datang dengan permintaan uang dalam jumlah besar sejak awal. Justru nominal kecil yang terlihat wajar dapat menjadi pintu masuk sebelum korban diminta melakukan transfer berikutnya.
Jangan terburu-buru karena takut paket gagal dikirim. Verifikasi terlebih dahulu setiap permintaan pembayaran. Kalau ada ongkir, asuransi, biaya tambahan, sampai refund yang semuanya mengharuskan Anda transfer lagi, Scam Alert! 🚨
Lebih baik kehilangan waktu beberapa menit untuk melakukan pengecekan daripada kehilangan uang karena mengikuti instruksi pelaku.
Baca Juga : BEWARE PENGELOLAAN PENGIRIMAN





